Pernikahan Beda Agama – Ternyata…, Masih Saja Marak-

6 03 2008

los bilbilicos cantan.. con sospiros de amor..
mi neshama mi ventura.. estan en tu poder..

Saat makan siang tadi, tiba-tiba terdengar Potongan lagu di atas, Los Bilblicos(the nightingales), yang memang aku setting sebagai nada dering panggilan masuk HP-ku. Buru-buru aku periksa HP dan ternyata Ronald (nama samaran)yang menghubungiku. Ronald ini adalah kawan dari salah satu klienku di kantor. Sudah hampir sebulan sejak pertama kali kenal, ia rajin menelpon dan mengajakku bertemu untuk mendiskusikan masalah yang dihadapinya. Ronald berkeinginan melangsungkan pernikahan beda agama. Ronald seorang Katolik dan pacarnya, Sari (juga nama samaran), seorang muslimah.

Seingatku, sejak awal tahun 2007 saja, ada sekitar 9 pasangan berbeda agama yang konsultasi kepadaku dan berangkat dari latar belakang yang beragam. 2 Pasangan baru saja menyelesaikan studi mereka di Perguruan Tinggi Katolik di Bandung, sepasang kekasih berasal dari Solo, Sepasang lagi, si perempuan seorang pengasuh panti asuhan di Yogyakarta dan calon suaminya seorang guru besar salah satu perguruan tinggi di Amerika, dan sisanya berasal dari sekitar Jabotabek. Ada yang bekerja di salah satu TV swasta, BUMN, dan anak Pengusaha di Depok. Itu baru yang berkonsultasi kepadaku, belum lagi yang berkonsultasi ke Pakar Pernikahan Beda Agama di Indonesia, Pak Kautsar Azhari Noer dan Pak Zainun Kamal, atau ke 2 orang kawanku yang memang aktifitasnya membantu teknis pencatatan dan pelaksanaan prosesi pernikahan beda agama. “Setidaknya, setiap Tahun ada sekitar 30 s.d. 50 pasangan yang kami bantu untuk dinikahkan secara beda agama,” Ujar Pak Kautsar dalam satu kesempatan. Data itu belum termasuk pasangan-pasangan yang sudah berkonsultasi namun sampai saat ini belum juga melangsungkan pernikahan beda agama atau mengurungkan niatnya untuk melanjutkan ke jenjang pernikahan. Artinya, terlepas dari jadi menikah atau tidak, kita tidak dapat menyangkal bahwa keinginan melangsungkan pernikahan beda agama masih saja marak meskipun Negara dan Mayoritas Ulama Indonesia jelas-jelas melarang jenis pernikahan ini.

Sampai detik ini, aku memang hanya menyediakan diri untuk memberikan konsultasi hukum Islam dan pertimbangan-pertimbangan lainnya saja. Sementara untuk membantu secara teknis proses pernikahan beda agama aku memilih tidak, meskipun aku cukup mengerti dan memiliki akses untuk melakukannya. Keterlibatanku jelas hanya sebatas itu, karena mungkin aku merasa sampai disitu tanggungjawabku sebagai sarjana Hukum Islam yang mengambil tugas akhir melakukan penelitian seputar perkawinan beda agama baik dari segi hukum Islam dan prakteknya di Paramadina.

Pandanganku sekarang memang berbeda jika dibandingkan empat tahun lalu saat aku masih hangat-hangatnya menjadi orang yang memilih posisi di garis liberal dalam pemikiran Islam. Dulu, jika ada orang yang datang berkonsultasi ingin melakukan pernikahan beda agama, dengan berapi-api aku akan langsung mendukung rencana itu dan lantas memberikan dasar argumentasi yang kuat secara syar’i dan historis. Sehingga orang itu menjadi yakin dan pada akhirnya melangsungkan pernikahan beda agama. Tapi kini, aku berpandangan sedikit berbeda. Aku tetap yakin bahwa dalam hukum Islam, perkawinan beda agama itu sama sahnya dengan perkawinan seagama. Begitu menurutku jika kita ingin berargumentasi di atas kontruksi hukum Islam an-sich. Akupun tetap tidak setuju dengan alur berpikir yang mengatakan bahwa pernikahan seagama saja banyak yang tidak langgeng apalagi pernikahan beda agama. Pergeseranku bukan terletak disana, tapi lebih pada pandangan bahwa persoalan pernikahan beda agama tidak dapat diselesaikan hanya dengan melihat boleh atau tidaknya dalam hukum Islam.

Sekarang, ketika didatangi orang yang berniat melakukan pernikahan beda agama, secara tegas aku akan mengatakan dua pandangan yang bersebrangan dalam hukum Islam. Pandangan yang membolehkan dan pandangan yang mengharamkan berikut dalil syar’i dan dinamika praktek pernikahan beda agama dalam panggung sejarah Islam. Tidak perlu berpanjang lebar mengulas perdebatan teologis dalam masalah ini. Cukup sampai disitu dan terserah mereka mau memilih maju atau mundur. Tapi, setelah itu, aku akan lebih banyak mengajak mereka berpikir menatap persoalan-persoalan lain yang selanjutnya satu persatu akan mereka hadapi jika mereka ingin tetap melangsungkan pernikahan beda agama.

Aku akan mengajak mereka merenungi beberapa hal, mulai dari kemungkinan terjadinya konflik di keluarga masing-masing jika keluarga menentang rencana mereka, sanksi sosial yang akan mereka terima di tengah masyarakat yang cenderung menolak pernikahan beda agama, bagaimana mendidik agama bagi anak-anak mereka, bagaimana anak mereka juga harus siap menerima sanksi sosial di mana sebagian orang yang beranggapan anak yang lahir dari pernikahan beda agama adalah “anak hasil zina” (meskipun istilah ini sangat tidak manusiawi), hingga hal yang paling berat, meskipun mereka hidup bersama, namun harus mengalami kesendirian dan kesepian sepanjang hidup dalam menjalani dan menghayati keberagamaan.

Untuk masalah terakhir tadi memang sangat pelik, misalnya jika suaminya seorang muslim, setulus apapun sang suami menghayati perayaan natal sang istri yang beragama kristen, tetap saja sang suami berada “diluar” dan tidak pernah bisa masuk secara total seperti apa yang dialami dan dirasakan sang istri dalam memaknai natal. Kecuali sang suami memiliki keberanian dan kemampuan “melintas” ke spiritualitas agama istrinya. Dan itupun bukan perkara mudah. Padahal, jelas-jelas bahwa hakikat pernikahan adalah menyatukan dua jiwa menjadi satu kesatuan utuh dalam bingkai spiritualitas sehingga mampu “menghadirkan” Tuhan dalam setiap gerak langkah mereka agar manusia tidak lagi merasa hampa dalam menjalani peran kemanusiaannya di dunia.

Pernikahan bukan sekedar legalisasi syahwat, regenerasi, menjalankan sunnah nabi, atau mengikuti tradisi saja. Tapi Pernikahan harus bisa dijadikan jalan menempuh hakikat kebenaran dimana sepasang manusia saling mengisi, membimbing, dan menemani agar satu sama lain secara bersamaan sampai kepada-Nya bukan saja secara syar’i, tapi jauh lebih dari itu… sangat jauh.. hingga menembus “sidratul Muntaha” yang syar’i pun tidak mampu menjelaskannya.. Mengapa kemudian Nabi Muhammad betapa menempatkan pernikahan sebagai hal yang sangat penting. Sesungguhnya, pernikahan atau jalan cinta, jika dimaknai lebih dalam lagi tidak hanya perspektif syar’i, adalah jalan setapak yang akan mengantarkan kita mencapai Tuhan. Maka menurutku, apakah pernikahan itu dilakukan oleh pasangan laki-laki dan perempuan yang seagama atau berbeda agama itu tidak menjadi penting selama bisa mencapai tingkatan ini.

Wallahu ‘alam..


Aksi

Information

One response

27 03 2008
diandra

Saya termasuk salah satu orang yang akan melangsungkan pernikahan beda agama. Saya tahu bagaimana tantangan berat yang harus saya hadapi untuk menuju ke jenjang itu. Tapi terlahir dari sebuah keluarga yang beda agama pula membuat saya tidak takut untuk tetap melanjutkan rencana pernikahan saya. Saya hanya ingin tahu di mana saya bisa menemukan penghulu yang dapat membantu pernikahan beda agama? Apakah di yayasan Paramadina betul2 bisa membantu? Lalu bagaimana prosedurnya? Saya bersedia mengubah KTP menjadi Islam. Tapi saya tidak mau jika harus mengucap syahadat segala. Karena kakak saya dulu mengganti KTP tanpa harus ke DepAg untuk di sumpah. Tapi hal itu sudah tidak bisa di lakukan lagi sekarang .

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: