PASSING OVER: Menyelami Spiritualitas Agama-agama

6 03 2008

Kemarin, Selasa 19 Juni 2007 adalah pertemuan perdana dari 5 kali pertemuan program Kajian Islam Eksekutif (KIE) dengan tema PASSING OVER: Menyelami Spiritualitas Agama-agama.

KIE sekarang menjadi salah satu programku di kantor(CSL). Diselenggarakan di Financial Club, Graha Niaga dengan para peserta kalangan eksekutif dibatasi maksimum 15 orang. Program ini sebenarnya sudah berjalan sejak 12 tahun ke belakang. dulunya dikelola Paramadina dan sudah 4 tahun ini dikelola CSL.

Alasanku mengangkat tema ini karena aku cukup gelisah dengan fenomena yang terjadi di tengah masyarakat kita berkaitan dengan masalah spiritualitas. Banyak dari masyarakat kota yang saat ini mengalami kegelisahan spiritual lalu mencari kompensasi ke gerakan new age atau kelompok-kelompok spiritual lalu meninggalkan agamanya (berpindah agama atau menjadi universalis tanpa agama).

Fenomena ini terjadi setidaknya karena dua alasan, yaitu semakin kuatnya radikalisme dan formalisme yang nyaris terjadi di setiap agama. Kedua, semakin teralineasinya manusia dari semesta sebagai pengaruh dari ilmu pengetahuan dan teknologi modern yang cenderung menempatkan semesta secara mekanik dan parsial.

Aku berfikir perlunya kalangan eksekutif dibekali dengan pemahaman yang utuh mengenai sisi esoterik (esensi) maupun sisi eksoterik (Form) dari sebuah agama. sehingga, mereka tidak melihat secara terpisah kedua unsur agama tadi lalu menempatkan satu di atas yang lain. atau memilih yang satu dan meninggalkan yang lain.

Akupun sengaja tidak hanya mengangkat spiritualitas dalam tradisi Islam, tapi juga mengangkat spiritualitas dari prespektif agama lain seperti hindu, katolik dan buddha. hal ini tidak lain agar para peserta mengenal spiritualitas agamanya sendiri, lalu mencoba “melintas” ke dalam spritualitas agama-agama lain lalu “kembali” ke agamanya semula. hal ini pun menurutku sangat penting karena sebagian dari kita cenderung berpikir “rumput tetangga selalu terlihat lebih Indah”. Tepatnya sering beranggapan bahwa ritual agama lain itu terlihat lebih mendalam dan bermakna dibandingkan dengan ritual agama sendiri. lalu tidak jarang yang lantas mencoba-coba ritual agama lain atau saat sudah cocok ya berpindah agama. Untuk menghindari hal demikian itulah poin penting dari “melintas”.

Pada pertemuan pertama kemarin Aku mengundang Pak Kautsar Azhari Noer (Guru Besar Perbandingan Agama dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)sebagai Narasumber dari tema “Pengantar Passing Over”. Untuk pertemuan kedua, bulan Juli aku mengundang Gede Natih (tokoh agama Hindu) yang akan mengangkat spiritualitas dalam agama Hindu. di Pertemuan ketiga di bulan Agustus aku meminta Romo Ismartono, SJ (Pakar Spiritualitas Katolik) untuk mengajak peserta menyelami spiritualitas katolik. di Bulan September aku mengundang Bhante Phra Kamsai Sumano Thera (Tokoh Buddha aliran Theravada) untuk membimbing peserta mendalami spiritualitas Buddha. Setelah peserta mengembara secara spiritual, di bulan Oktober peserta akan kembali diajak “pulang” dalam spiritualitas Islam. Materi ini akan disajikan oleh Dr.Alwi Shihab.

Setelah program ini selesai, aku berencana mengumpulkan makalah-makalah dari para pembicara dan melengkapinya dengan beberapa tulisan lain, lalu akan aku jadikan buku dengan tema Spiritualitas Agama-agama. Menurutku, buku ini sangat penting juga untuk menjadi buku panduan bagi para pemula yang ingin melakukan pengembaraan spiritual. Semoga saja semua berjalan lancar.

Ada beberapa hal penting yang aku rekam dari apa yang disampaikan Pak Kautsar Azhari Noer pada pertemuan pertama kemarin sebagai diskusi pengantar yang juga layak untuk kita simak. uraian dari Pak Kautsar lebih banyak menjelaskan pengalaman para mistikus/spiritualis yang melakukan pengembaraan spiritual. silahkan menyimak.

Anthony de Mello (1931-1987), seorang imam dan guru spiritual Katolik kelahiran India, ketika memberikan sebuah kata pengantar untuk sebuah karyanya The Song of the Bird, yang telah diterbitkan dalam bahasa Indonesia dengan judul Burung Berkicau mengungkapkan:

Buku ini dikarang untuk orang dengan pandangan keagamaan atau duniawi yang
berbeda-beda. Akan tetapi kami tidak menyembunyikan bahwa kami seorang imam
Katolik. Kami mendalami secara luas tradisi-tradisi mistis yang bukan-Kristen,
bahkan bukan-keagamaan, dan kami sangat dipengaruhi dan diperkaya olehnya. Akan
tetapi kami selalu kembali kepada Gereja kami, yakni Gereja Katolik, karena dialah
Bunda Rohani kami. Walaupun kami amat menyadari batas dan kadang-kadang juga
sempitnya, namun kami juga sadar Gerejalah yang telah membentuk dan membina
kami, sehingga kami menjadi orang seperti sekarang ini.

Melalui kata-kata ini, Anthony menegaskan identitasnya sebagai seorang imam Katolik. Namun demikian, Kekristenannya, atau, lebih tepatnya, Kekatolikannya, tidak menghalanginya melakukan pengembaraan spiritual ke dalam tradisi-tradisi mistis bukan-Kristen, bahkan bukan-keagamaan. Pengembaraan spiritual itu bukan tanpa tujuan. Tujuannya adalah untuk memperkaya pengalaman keagamaan dengan tradisi-tradisi keagamaan lain. Pengembaraan itu tidak mesti membuat sang pengembara menetap selama-lamanya di tempat pengembaraan, tetapi ia akan kembali kepada agamanya. John S. Dunne, seorang profesor teologi di Universitas Notre Dame, Amerika Serikat, menyebut pengembaraan spiritual ke dalam jantung agama lain seperti ini disebut ”melintas” (”passing over”) dan menyebut kembali dari tempat pengembaraan kepada agama semula “kembali” (“coming back”).

Karya Anthony yang disebut tadi, Burung Berkicau, berisi cerita-cerita, baik yang kuno maupun yang modern. Cerita-cerita itu dikumpulkan dari berbagai tradisi keagaman Buddha, Hindu, dan Kristen, dari aliran Zen dan Sufi, dan dari daerah Hasisi (Yaman Utara), Rusia dan Tiongkok. Bila cerita-cerita ini dibaca dengan cara tertentu, cerita-cerita ini akan menyebabkan perkembangan spiritual pembacanya.

Anthony mengatakan bahwa ada tiga cara membaca:

1. Bacalah sebuah cerita satu kali. Kemudian bacalah cerita yang lain. Cara membaca
seperti ini hanya memberikan hiburan.
2. Bacalah sebuah cerita dua kali. Adakanlah refleksi. Terapkanlah cerita itu pada
kehidupan Anda. Dengan cara ini Anda akan mencicipi teologi. Sangat membantu,
apabila cara ini dilakukan bersama dalam kelompok kecil yang setiap anggotanya
diberi kesempatan untuk membagi-bagikan hasil refleksinya atas cerita itu. Dengan
demikian Anda akan termasuk kelompok teologi.
3. Bacalah cerita itu sekali lagi setelah Anda melakukan refleksi seperti disebut di
atas. Ciptakan keheningan di hati Anda dan biarkan cerita itu menyampaikan makna
yang dalam kepada Anda: suatu makna yang jauh melampaui kata-kata dan refleksi.
Cara ini secara bertahap akan mengembangkan kepekaan Anda terhadap kehidupan
mistis.

Atau, ingat-ingatlah cerita itu sepanjang hari dan biarkanlah keharuman dan getaran nadanya membayangi Anda. Biarkanlah cerita itu berbicara kepada hati Anda, bukan kepada otak Anda. Cara ini mungkin membuat Anda menjadi seorang mistikus. Penulisan buku cerita memang bertujuan supaya pada akhirnya pembaca mendapatkan pengalaman mistis.

Perhatikan pengembaraan Anthony ke dalam tradisi Hindu tentang hubungan Tuhan dan alam. Orang Hindu menggambarkan hubungan antara Tuhan dan alam bagaikan hubungan antara penari dan tarian. Tuhan adalah Sang Penari dan alam adalah tarian-Nya. Sebuah tarian berbeda dengan seorang penari, tetapi tarian tidak bisa ada jika yang menarikannya tidak ada. Tarian mustahil dipisahkan dari penari. Begitu gerak penari terhenti, tariannya pun tiada lagi.

Dalam usahanya mencari Tuhan, kata Anthony, manusia terlalu banyak berpikir, terlalu banyak merenung, terlalu banyak berbicara. Bahkan ketika memandang tarian yang kita sebut ciptaan, ia terus-menerus berpikir, berbicara dengan dirinya sendiri dan dengan orang lain, merenung, menelaah, dan berfilsafat. Kata-kata, kata-kata, kata-kata belaka. Suara-suara, suara-suara, suara-suara belaka.4 Anthony memperingatkan para pembaca karyanya agar tidak terlalu banyak berpikir, terlalu banyak merenung, terlalu banyak berbicara tentang Tuhan. Sikap yang benar yang dianjurkan oleh guru spritual ini adalah seperti apa yang dikatakannya berikut ini: ”Diam dan lihatlah tarian itu. Hanya melihat saja: sebuah bintang, sekuntum bunga, sehelai daun layu, seekor burung, sebongkah batu… Satu lambaian tarian saja sudah cukup. Lihatlah. Dengarlah. Hiruplah. Sentuhlah. Nikmatilah. Dan kiranya tak lama kemudian engkau akan menjumpai-Nya, Sang Penari sendiri.

Banyak mistikus dan guru spiritual melakukan pengembaraan spiritual ke dalam jantung agama-agama lain untuk memperkaya pengalaman keagamaan atau spiritual mereka sendiri. Beberapa nama dapat kita sebutkan disini: Sri Ramakrishna, Mahatma Gandhi (dari tradisi Hindu), Robbi Shoni Labowitz (dari tradisi Yahudi), Thomas Merton, Bede Griffiths, William Johnton (dari tradisi Kristen), Dara Shikoh, ’Abdur-Rahman Chisti, Inayat Khan, dan Syaikh Ragip Frager (dari tradisi Sufi). Mereka adalah para mistikus yang berani melakukan pengembaraan spiritual ke dalam agama-agama lain. Mereka tetap menganut agama mereka sendiri meskipun melakukan pengembaraan spiritual ke dalam jantung agama-agama lain. Pengembaraan spiritualnya tidak membuat mereka berpindah agama ke dalam (salah satu) agama-agama lain.

Banyak mistikus dan penempuh jalan spiritual mempunyai kecenderungan untuk melakukan pengembaraan spiritual ke dalam jantung agama-agama lain karena mereka menekankan dimensi esoterik agama. Mereka lebih menekankan esensi daripada manifestasi, lebih menekankan substansi daripada bentuk, lebih menekankan realitas daripada simbol, lebih menekankan kualitas daripada identitas, lebih menekankan nilai daripada label, lebih menekankan ”isi” daripada ”kulit.” Mereka tidak betah dengan formalisme kaku yang kering dari ”air spiritual” yang memberikan kepuasan bagi orang yang haus akan air spiritual dan memberikan kesejukan bagi orang kepanasan yang mencari ”udara sejuk spiritual.” Robbi Shoni Labowitz, seorang pembimbing spiritual dari tradisi kabbalistik Yahudi yang bermukim di Florida, Amerika Serikat, merasakan kekakuan Yudaisme masa kecilnya sebagai agama yang menekankan formalisme kaku yang dipahat pada batu, tidak pernah berubah. Ia merasa tidak nyaman dengan agamanya itu sehingga ia memutuskan untuk meninggalkannya. Pada usia duapuluhan mengakui dirinya sebagai seorang ”kabbalis-feminis-Taois-humanis-universalis” yang kebetulan dilahirkan sebagai Yahudi.

Pada suatu hari, ketika mengikuti kelas sore filsafat Timur di Universitas (Katolik) Barry, tubuhnya mulai gemetar karena kesadaran yang mengagumkan. Ia mengisahkan pengalaman spiritual itu dengan mengatakan,

Tubuhku mulai gemetar dengan sebuah kesadaran yang mengagumkan. Selama diskusi
tentang Taoisme [di kelas itu], kerinduanku yang dalam akhirnya menerobos filter-filter yang bertahun-tahun dari indoktrinasi Yahudi Ortodoks kepada sebuah kesadaran yang mendalam bahwa Tuhan dan daku adalah satu. Jalan, sang Tao, Jalan dari Yang Satu — tidak ada yang lain. Tuhan dan udara adalah satu; Tuhan dan bunyi adalah satu; Tuhan ada dalam segala sesuatu. Tuhan ada dalam daku. Tuhan ada dalam daku.

Shoni menemukan dalam Taoisme sesuatu yang baru dan mempesona yang tidak ditemukannya dalam Yudaisme Ortodoks yang menekankan formalisme yang kaku dan kering. Melalui Taoisme, ia menyadari bahwa Tuhan adalah dekat, ada di mana-mana, ada dalam segala sesuatu. Dalam agama lamanya, ia merasakan Tuhan sangat jauh, otoriter, yang suka menghakimi, pemarah, dan cemburu, meskipun kadang-kadang pengasih.

Shoni mengisahkan pengembaraan spiritualnya yang sangat mengesankan ke dalam tradisi-tradisi Timur, khususnya Buddhisme dan Taoisme. Ia mengatakan,

Sepanjang perjalanan untuk menemukan Tuhan dalam diriku dan keesaan dalam alam
semesta, aku tertarik kepada Buddhisme dan Taoisme, mengadakan perjalanan di India
dan Nepal, dan mempelajari meditasi dan yoga. Praktik-praktik spiritual dalam tradisi-tradisi Timur membantuku untuk mencopoti filter-filter dan ketakutan-ketakutansehingga aku bisa melihat warisan dan asal-usulku sendiri melalui lensa cinta. Aku mampu kembali dan menjelajahi Yudaisme dengan suatu cara baru yang menyeluruh. Dan dalam penjelajahan itu, aku menemukan bahwa jalan Buddhis bodhisattva –pengabdian untuk melayani kebaikan dalam seluruh kehidupan yang memiliki indra untuk melihat dan merasa – adalah bagian dari kekuatan rahasia dan kemuliaan Yudaisme mistis juga.

Bagi Shoni, tradisi-tradisi mistis Timur membantunya untuk memahami warisan dan asal-usul tradisi Yahudinya melalui cinta. Ia juga menemukan kembali sesuatu yang berharga tetapi hilang dari tradisi Yahudi, yaitu nilai pengabdian untuk melayani seluruh kehidupan makhluk yang mempunyai indra, melalui pengembaraannya ke dalam tradisi Buddhis.

Memasuki jantung agama lain bukan berarti menenggelamkan diri di dalamnya untuk selama-lamanya sehingga lupa keluar untuk kembali kepada agama semula; berangkat dari agama semula, memasuki daerah agama lain, dan kembali kepada agama semula. Sikap inilah yang ditawarkan John S. Dunne ketika ia mengatakan,

Apa yang kelihatan yang bisa terjadi adalah suatu fenomena yang dapat kita sebut
”melintas” (”passing over”), melintas dari satu budaya kepada budaya lain, dari satu
cara hidup kepada cara hidup lain, dari satu agama kepada agama lain. Ini diikuti oleh suatu proses yang sama dan berlawanan yang kita sebut ”kembali” (”coming back”),
kembali dengan wawasan baru kepada budaya sendiri, cara hidup sendiri, agama
sendiri. Orang suci (yang cocok untuk) zaman kita, tampaknya, bukanlah seorang tokoh
seperti Gautama, Yesus, atau Muhammad, seorang yang dapat mendirikan satu agama
dunia, tetapi seorang tokoh seperti Gandhi, seorang manusia yang melintas dengan
pengertian yang simpatik dari agamanya sendiri kepada agama-agama lain dan kembali
lagi dengan pengertian yang simpatik dari agamanya sendiri. Melintas dan kembal,
tampaknya, adalah petualangan spiritual zaman kita.

Sikap Dunne, seperti tergambar dalam kutipan di atas, sangat radikal sehingga ia mengatakan bahwa Gautama, atau Yesus, atau Muhammad bukan tokoh untuk zaman kita ini. Kebanyakan orang Buddhis, Kristen, dan Muslim, saya kira tidak menyetujui penolakan Dunne terhadap peneladanan Gautama, atau Yesus, atau Muhammad sebagai tokoh untuk zaman kini karena ketiga tokoh ini adalah tokoh teladan sepanjang zaman bagi pengikut mereka masing-masing. Bagi komunitas Muslim, yang perlu adalah memperkaya pemahaman dan peneladanan mereka akan Muhammad dengan pemahaman dan peneladanan para penganut agama-agama lain akan tokoh-tokoh teladan mereka.

Yang patut disetujui dari Dunne adalah keberaniannya melakukan apa yang disebut ”melintas” (”passing over”) yang harus diikuti oleh apa yang disebutnya ”kembali” (”coming Back”). ”Melintas” berarti berani melakukan pengembaraan spiritual ke dalam agama lain. ”Kembali” berarti kembali dari tempat pengembaraan itu kepada agama semula dengan membawa pandangan baru yang memperkaya agama semula itu. Dunne melukiskan bahwa proses pengembaraan itu mulai dari ”tanah air” agama seseorang, terus melintasi ”negeri ajaib” agama-agama lain dan berakhir ”di tanah air” agamanya sendiri. Jika ini benar, arah pengembaraan itu banyak tergantung kepada sifat agama tempat berangkat dan kembali. Gandhi mulai dan berakhir dengan Hinduisme; ia melintas terutama ke dalam Kristen, dan juga Islam tetapi ia selalu kembali kepadan Hinduisme. Seorang Kristen, sesuai dengan ini akan mulai dan berakhir dengan Kristen, seorang Muslim, dan seorang Buddhis mulai dan berakhir dengan agama mereka masing-masing. Apabila diperhatikan lebih dalam, akan ditemui suatu titik berangkat dan kembali yang lebih pokok, yaitu kehidupan sesorang itu sendiri. Seseorang harus melintasi dan mengubah pendirian supaya masuk ke dalam kehidupan Yesus, meskipun ia sendiri seorang Kristen, dan kemudian kembali kepada kehidupannya sendiri. Dari sudut pandang ini, semua agama, meskipun agama sendiri seseorang, merupakan bagian ”negeri ajaib” dalam pengembaraan ini. Akhirnya kehidupan pribadi juga yang merupakan ”tanah air”-nya.10

Dalam pengertian ini, pada hemat saya, sebenarnya ”tanah air” terakhir yang permanen tidak pernah ada bagi seorang pengembara spiritual karena pengembaraan itu tidak pernah berhenti sepanjang hayat. ”Tanah air” dapat berubah menjadi ”negeri ajaib” yang harus dilintasi untuk menemukan ”tanah air” baru. Finalitas permanen ”tanah air” agama seseorang hanya ada sejauh berada dalam lingkaran daerah agama yang dianutnya, yang tidak lain adalah ”tanah air”-nya juga. Pengembaraan tetap berlanjut secara terus-menerus dalam lingkaran daerah itu setelah melintasi ”negeri ajaib,” dan pengembaraan ke ”negeri ajaib” bisa pula dilakukan berulang-ulang.

Ketika mempelajari kosep-konsep filosofis kunci Ibn ’Arabi, Lao Tzu, dan Chuang Tzu melalui karya Toshihiko Izutsu, Sufism and Taoism,11 saya menyaksikan, seperti ditunjukkan oleh penulisnya, bahwa konsep-konsep filosofis kunci Ibn ’Arabi sangat dekat dengan konsep-konsep filosofis kunci Lao Tzu dan Chuang Tzu. Dalam hal ini, bagi saya, pemikiran-pemikiran Lao Tzu dan Cuang Tzu bukanlah bahaya yang merusak Islam tetapi adalah khazanah berharga yang memperkaya sistem metafisis Islam versi Sufisme yang diwakili oleh Ibn ’Arabi.

Pandit Usharbudh Arya, seorang tokoh Hindu aliran Wedanta Yoga, mengungkapkan sikap penyerahan total dirinya kepada Tuhan (islâm) dengan kata-kata sebagai berikut:

Jika aku tidak mengatupkan tanganku dalam mengabdi kepada-Mu, maka lebih baik
aku tidak mempunyai tangan. Jika aku melihat dengan mataku suatu benda yang di
dalamnya aku tidak melihat-Mu secara langsung atau tidak langsung, wahai Tuhanku,
maka lebih baik aku tidak mempunyai mata. Jika aku mendengar dengan telingaku
suatu kata, yang secara langsung atau tidak langsung, bukan nama-Mu, wahai
Tuhanku, lebih baik aku tidak mempunyai telinga. Jika aku mengucapkan dengan
mulutku suatu kata tunggal yang di dalamnya tidak terkandung suatu keseluruhan
hymne pujian kepada-Mu, wahai Tuhan, maka biarkanlah telinga tidak ada lagi. Dalam
setiap kerdipan pikiranku adalah Engkau yang cahayanya menjadi pikiranku, dan jika
ada suatu cahaya di dalam pikiranku yang tidak aku ketahui sebagai kerdipan-Mu,
maka buanglah pikiranku jauh-jauh dari daku, wahai Tuhan, tetapi datanglah dan
berdiamlah secara langsung dalam daku.

Kata-kata Arya di atas mengingatkan saya pada sikap pasrah, kepatuhan, dan ketundukan kepada Allah swt (islâm) sebagai konsekuensi tauhid. Sikap pasrah ini diungkapkan dalam al-Qur’an sebagai berikut: “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku, dan aku termasuk orang yang pertama berserah diri [kepada Allah].” (6:162-63).

Sikap pasrah yang diungkapkan oleh Arya secara jujur itu harus diakui sebagai sikap pasrah total dengan sepenuh jiwa dan raganya kepada Tuhan. Saya mengagumi sikap pasrah (islâm) orang Hindu itu dan iri kepadanya karena menyaingi – jika tidak boleh dikatakan melebihi – sikap pasrah (islâm) yang saya lakukan selama ini. Namun demikian, keyakinan saya kepada Islam tidak akan berkurang sedikit pun, apalagi untuk berpindah agama ke dalam Hinduisme. Sebaliknya kata-kata, atau lebih tepatnya, doa, Arya itu mengilhami saya untuk menumbuhkan sikap pasrah kepada Allah swt (islâm) yang lebih sempurna agar tidak kalah dengan sikap pasrah orang yang agamanya tidak dinamai “Islam” itu.

Agama yang dianut oleh seseorang ibarat ”tanah air” baginya, dan agama-agama lain ibarat ”negeri ajaib” atau ”negeri asing.” Ibarat ”tanah air,” suatu agama harus dicintai oleh penganutnya sendiri. Ibarat ”negeri asing,” agama-agama lain tidak mesti dijauhi dan dimusuhi, tetapi, sebaliknya, lebih baik dikenal, dikunjungi, diajak berdialog, dan didekati agar dapat mengambil pengalaman yang sangat berharga untuk memperkaya pengalaman keagamaan dan spiritual dalam agama sendiri. Pengalaman yang diperoleh di ”negeri asing” agama-agama lain dapat digunakan untuk memperkaya pengalaman untuk pembangunan ”tanah air” agama sendiri.

Rasa takut untuk melakukan pengembaraan spiritual ke dalam jantung agama-agama lain harus dihilangkan. Tentu saja tidak semua orang ingin melakukan pengembaraan itu. Orang yang ingin melakukannya harus mempersiapkan ”bekal” pengetahuan yang memadai tentang agama sendiri dan pengetahuan tentang agama-agama lain. Jangan sampai ia tidak mempunyai pengetahuan yang memadai tentang agamanya sendiri ketika mmasuki ”negeri asing” agama-agama lain. Yang lebih penting lagi adalah bahwa ia harus berangkat dari agamanya sendiri, dan, setelah mengembara ke dalam jantung agama-agama lain, kembali dengan wawasan baru kepada agamanya.

Demikianlah beberapa catatan dari diskusi tersebut. Mudah-mudahan Bermanfaat.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: