Dasar-dasar Sikap Pluralis Saya Temukan di PII: Sebuah Pengakuan Subyektif

6 03 2008

“Ketika berlangsung dialog “Menggali Paradigma Baru Beragama” di Vihara Vipassana Graha, Lembang, kerjasama MADIA-INCRES, pada 20-22 April 2001, seorang peserta muslim, Asnawi Ihsan, menuturkan pengalaman personal itu dengan sangat hidup. Ia bercerita tentang masa kecilnya dalam dunia pesantren, yang kemudian membawanya aktif di organisasi Pelajar Islam Indonesia (PII) di mana ia menemukan pluralitas dalam Islam. “Kemudian saya masuk IAIN Jakarta dan di situ saya bersentuhan dengan trend-trend pemikiran klasik dalam dunia Islam,” katanya. Pemahaman keagamaannya semakin meluas ketika ia juga aktif di Yayasan Paramadina, di mana ia bersentuhan dengan semangat inklusivisme dan Pluralisme. (Trisno S. Susanto & Martin L. Sinaga, Meretas Horison Dialog: Catatan Dari Empat Daerah, Madia, 2001 hal.105)

Kutipan di atas hanya ingin menggambarkan bahwa PII telah memberikan makna tertentu dalam proses perjalanan hidup saya. Saya akui, saat saya menginjak tahun keempat di salah satu pesantren modern di Jakarta, setiap malam saya tidak bisa tidur setelah mengikuti pelajaran kitab hadis dimana sang Ustadz mengutip sebuah hadis tentang perpecahan umat Islam. Menurut hadis itu, Islam akan terpecah menjadi 73 golongan dan hanya satu golongan yang akan selamat, yaitu Ahli sunnah wal-Jama’ah. Ustadz itu kembali menegaskan, bahwa Ahli Sunnah Wal-Jamaah itu adalah kelompok sunni yang didirikan oleh Abu Hasan Al-Asy’ari dan Abu Mansyur Al-Maturidi. Selain aliran itu seluruhnya akan masuk neraka! Hati kecil saya membatin, “Berapa jumlah manusia di dunia ini? Dari seluruh manusia itu berapa yang Islam? Dari yang Islam itu berapa yang Sunni? Dari Sunni itu berapa yang saleh dan berhak atas surga? Jika demikian, sedikit sekali penghuni surga! Sama saja murka Tuhan lebih besar daripada kasih sayang-Nya!” Saya menanggap ini tidak mungkin, pasti ada yang kurang tepat pemahaman ustadz tersebut terhadap hadis ini. Sejak saat itu, saya bertekad untuk mencari jawaban atas kegelisahan saya tersebut. Maka saya memutuskan untuk pindah ke pesantren salafi di Bogor untuk mendalami ilmu Tafsir, ilmu Hadis dan ilmu Alat yang menurut saya sangat dibutuhkan untuk membedah alquran dan hadis.

Di Bogor itulah pada tahun 1995 saya mulai aktif di PII. Saat mengikuti Leadership Basic Training saya belum menemukan banyak hal. Begitupun dalam proses berstruktur dan beraktifitas di PII. Kejutan penting baru terjadi saat saya mengikuti Mental Training di Bandung Tahun 1996 saat mengikuti materi Perbandingan Mazhab Teologi dan Fikih. Diskusi inilah yang ternyata saya tunggu-tunggu selama 2 tahun dalam hidup saya. Dalam diskusi ini, sang Instruktur dengan sangat piawai membongkar bangunan doktrin teologis yang sudah tertanam kuat dalam pikiran masing-masing peserta. Satu persatu dari kami diminta untuk menyampaikan pandangan Islam versi kami. Saya yang terdidik dalam kultur sunni menjelaskan Islam versi sunni. Kawan saya yang terdidik dalam kultur wahabi menjelaskan Islam versi Wahabi, begitu pun yang lainnya. Tapi kami sangat terkejut saat instruktur tersebut mampu menunjukkan bukti-bukti kelemahan dari setiap mazhab yang selama ini kami yakini paling benar. Menurutnya, kenapa semua dapat dicari titik lemahnya? Karena semua mazhab itu adalah hasil pikiran manusia juga. Tidak lebih sekedar pemahaman manusia atas Alquran dan Sunnah. Kami diajarkan untuk bersikap proporsional dalam meletakan hal yang sakral dan hal yang profan. Hal yang mutlak dan hal yang relatif. Disanalah kami diajarkan untuk bersikap saling menghargai dan tidak lagi bersikap eksklusif terhadap salah satu mazhab pemikiran dan fikih dalam Islam. Betapa saya harus mengakui bahwa dasar-dasar sikap pluralis saya temukan di PII.

Semenjak itu saya semakin rajin mendalami kitab-kitab teologi, diantaranya Al-Milal wa An-Nihal karya Sahristani, Maqolat Islamiyyin wa Ikhtilaf al-Mushollin, Ushul al-Khamsah karya Al-Jabiri, al-Munyat al-amal fi al-milal wan an-nihal karya Abdul Qohir Al-Baghdadi dan beberapa karya ulama lain hingga saya menemukan jawaban atas kegelisahan saya mengenai keselamatan umat Islam diluar sunni. Kesimpulan terakhir saya, seharusnya hadis itu dipahami dengan cermat dan tidak tekstual. Nabi Muhammad hanya ingin memberikan standarisasi bahwa sejauh apapun kalian berbeda pandangan dan terpecah dalam kelompok yang banyak adalah hal yang lumrah. Tidak perlu khawatir dan saling memusuhi, semuanya akan selamat selama menjadikan alquran dan sunnah sebagai landasan. Nampaknya nabi sangat paham terhadap karakter bangsa arab sebagai generasi awal umat Islam yang mudah terpecah belah. Lihat saja, tidak lama setelah nabi wafat, kasus perseteruan antara Ali dan Muawiyah menjadi pemicul lahirnya firqah (sekte) dalam Islam. Dari peristiwa itu lahir sekte Khawarij dan Syi’ah. Lalu muncul Murjiah, Jabbariyah, Qaddariyah, Sunni, Mu’tazilah, Wahabi dan lain-lain. Sejak itulah terjadi tradisi saling mengkafirkan dalam internal Islam. Sejak itu saya bisa memahami mengapa nabi menyatakan demikian dan mengapa saya harus mengalami kegelisahan ini serta apa yang harus saya lakukan. Begitulah pergulatan pemikiran pada diri saya di usia SMA yang proses pematangannya saya peroleh di PII.

Selesai dari problem pluralitas dalam Islam, kegelisahan saya berikutnya adalah apakah hanya orang Islam yang selamat? Apakah orang di luar Islam tidak akan selamat? Nampaknya saya harus berpikir dan mencari jawaban mengenai doktrin keselamatan. Pergulatan pemikiran saya dalam mencari jawaban mengenai keselamatan orang-orang di luar Islam lebih banyak dimatangkan melalui kajian dan diskusi di Paramadina. Proses ini mungkin tidak relevan jika dibahas panjang lebar dalam tulisan ini. Tapi intinya saya harus bersyukur, saya dapat menemukan jawaban yang memuaskan dengan tetap merujuk kepada Alquran dan Sunnah.

Saat ini, saya dalam proses mencari titik temu dan membongkar agoransi antara kelompok syari’at, sufi, teolog dan filosof. Saya begitu resah melihat banyak orang yang mengambil jalan sufi namun bersikap ekstrem menganggap orang yang belum masuk dalam salah satu kelompok sufi, amal ibadahnya sia-sia karena belum mengenal Tuhan. Atau orang yang mengambil jalan syariat namun bersikap kaku hanya sibuk pada persoalan simbol dan menganggap kelompok sufi, filsafat dan teolog sebagai ahli bid’ah. Atau juga kelompok teolog yang sibuk dengan kategorisasi kafir, musyrik, zindiq bahkan di internal umat Islam sendiri. Atau juga para penggemar filsafat yang menjadikan rasionalitas sebagai satu-satunya alat pencapai kebenaran dengan menafikan potensi batin kaum sufi bahkan mencap mereka kaum irasional. Saya ingin mencari solusi agar semua kelompok itu bisa hidup berdampingan dan saling menghargai. Saya berharap, di CSL, lembaga tempat saya bekerja sekarang saya dapat menyelesaikan problem ini.

Demikian perjalanan hidup saya yang sampai saat ini masih terus berlangsung untuk mematangkan jiwa saya dan menjalankan misi hidup saya. Di setiap tempat dan waktu, saya selalu berusaha menangkap pesan yang Tuhan sampaikan untuk diri saya. Karena keterbatasan saya, kadang Tuhan harus berulang-ulang menyampaikan pesan untuk satu fase pematangan jiwa agar saya bisa memahami dengan baik apa maksud Tuhan. Namun, betapa saya ingin tampil baik dalam berbagai peran yang telah saya sepakati dengan Tuhan saat melakukan perjanjian primordial ketika di alam rahim sebagai persinggungan kehendak Tuhan dengan kebebasan manusia. Betapa saya ingin pulang ke Tuhan sebagai “nafs al-muthmainnah” dimana antara Tuhan dan saya saling mengikhlaskan (raadhiatan mardiyyah) karena seluruh isi perjanjian itu telah saya jalankan sesuai kemampuan dan kapasitas saya.

Semoga bermanfaat dan kita bisa saling bercermin. Karena saya yakin, setiap anggota PII memiliki cara yang berbeda dalam memaknai aktifitasnya di PII. Berbeda pula motivasi dan kebutuhannya. Berbeda pula misi hidup dan perjanjian primordialnya dengan Tuhan harus melalui cara apa saja untuk mematangkan jiwanya dan tahap apa yang harus diselesaikan di PII. Jadi, tidak ada yang perlu diperdebatkan dan seharusnya masing-masing belajar menjadi partner yang berguna satu sama lain. Kita sudah memilih sekaligus ditakdirkan menjadi anggota PII. Begitupun kita sudah memilih dan Ditakdirkan untuk saling berinteraksi satu sama lain hingga saat ini. Tinggal kita mainkan peran kita dengan baik dalam drama kosmik ini. Toh semua cuma peran yang harus kita mainkan. Dan PII pun tidak lebih dari sebuah pentas pertunjukan. Saat sukses tidak perlu terlalu gembira dan saat gagal tidak perlu menyalahkan diri sendiri sepanjang masa. Karena yang harus kita pertanggungjawabkan ke Tuhan bukan soal sukses atau gagal. Tapi mampukah kita memainkan peran sukses dengan baik atau memainkan peran gagal juga dengan baik.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: